Tentang Diskusi yang Baik dan Benar

Moderator dan Narasumber

Diskusi Yang Baik dan Benar. Demikianlah tema dari seminar yang disajikan oleh narasumber Bpk. Ferdy Leu Orolaleng sebagai, seorang komunikator dan dosen STIKOM Uyelindo Kupang pada hari Sabtu, 19/11/2011 di aula Ibrani STSM. Maksud dari seminar ini sesuai temanya ialah, para frater dan mahasiswa FFA lebih aktif, terampil dan sungguh-sungguh memahami apa dan bagaimana berdiskusi yang baik. Papar RD. Patris Neonub yang bertindak sebagai moderator.

Bpk. Ferdy Orolaleng dalam awal sapaan dan perkenalan dirinya  mengatakan bahwa, seminar ini sebenarnya hanya bersifat menyegarkan kembali ingatan-ingatan dan pengalaman para frater dalam berdiskusi. Yang hendak ia sampaikan ialah teknik komunikasi dan presentasi yang efektif dalam hubungannya dengan diskusi. Secara tegas ia mengatakan bahwa para calon imam kelak akan bertugas sebagai seorang komunikator selama masa pelayanannya menjadi imam. Untuk itu dalam berkomunikasi harus memahami siapa pendengar kita, agar pesan yang akan kita sampaikan sungguh-sungguh mengena.

Pak Ferdy demikian sapaan akrab pria kelahiran Lembata yang pernah bekerja di Komsos Keuskupan Agung Semarang ini, membuka presentasinya dengan menggambarkan tentang hubungan antara bahasa dan logika, retorika Aristoteles, cara mengkomunikasikan pesan, dan peranan moderator dalam diskusi. Yang menjadi penekanan bagi seorang komunikator ialah, etos sebagai integritas sang komunikator atau kompetensi sang kominikator, pathos yang berhubungan dengan intonasi, vokal, diksi, dan pilihan kata, serta logos yaitu kelurusan pikiran, sesuatu yang masuk akal dan rangkainnya berurutan (sistematis-logis), ketiganya merupakan elemen penting dalam membangun pemahaman untuk berdiskusi.

Mengenai komunikasi publik secara lisan beliau menggolongkannya menjadi dua yaitu; Monologis (pidato, khotbah, kampanye) dan Dialogis (Kuliah, presentasi, diskusi, ceramah, dan rapat). Selanjutnya ia menggambarkan bahwa diskusi itu sebenarnya ialah eksplorasi intelektual, sehingga dalam diskusi akan diperoleh pemahaman, berbeda dengan rapat atau sidang yang menghasilkan keputusan. Ia membandingkan antara rapat dan diskusi itu jauh perbedaannya. Kalau diskusi zaman Yunani bentuknya melingkar artinya yang hendak berdiskusi itu masuk dalam lingkaran dan saling memaparkan ide atau gagasannya, sedangkan dalam rapat ada kesan formal, ada kode etiknya serta formatnya yang memimpin rapat duduk di depan dan forum berhadapan dengan pemimpin rapat.

Penghargaan semadyanya dari Sie Akademi dan Veritas

Setelah penyajian materi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Ternyata animo para fater mulai dari tingkat I sampai tingkat VI cukup tinggi dalam memaparkan ide, kritikan, pernyataan dan pertanyaan di samping juga meminta informasi dari sang narasumber.

Seminar ini berjalan alot. Banyak informasi dan teknik baru yang menambah pengetahuan dan keterampilan para frater dalam berdiskusi. Maka sekarang para frater jangan lagi takut dalam berdiskusi tetapi berusahalah aktif dan berani dalam memaparkan ide dalam diskusi.(FrC/MN)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s