TEMU PEMBINA TINGKAT EMPAT

“Dalam berinteraksi dan bertingkahlaku, para frater perlu mempertimbangkannya dengan mempergunakan akal budi (otak) dan melakukannya dengan kesadaran akan panggilan yang sedang digelutinya. Akal budi dan panggilan adalah “alarm” bagi seorang frater dalam bertindak dan berkelakuan.” Demikian inti pembicaraan dalam pembinaan tingkat yang dilakukan di ruang kelas tingkat II. Pembinaan tingkat untuk kedua kalinya ini, dipimpin langsung oleh Rm. Dr. Oktovianus Naif, Pr , Selasa, 15 November 2011) malam.
Mengawali kegiatan pembinaan tingkat kali ini, Rm. Okto memberikan pertanyaan sebagai sentilan awal Apa Yang Anda Butuhkan dalam Pembinaan Tingkat ini? Para frater kemudian memberikan masukan dan menyampaikan kebutuhan yang mereka inginkan. Secara umum, yang mereka butuhkan adalah bagaimana menjadi seorang calon imam yang baik, dan bijaksana dengan kemampuan intelek yang memadai, bagaimana cara belajar yang baik, bagaimana mengolah diri secara benar, bagaimana menjadi pribadi yang rendah hati dan berelasi yang wajar dan tepat dengan orang lain. Karena itu, Romo Okto kemudian memulai pembicaraan dengan mengangkat suatu persoalan kursial yang marak diperbincangkan yaitu bagaimana berelasi secara baik dan wajar dengan lawan jenis.
Menurut beliau, yang paling pertama dilihat adalah fakta yang ada saat ini, di mana ada pria dan wanita. Keduanya memiliki karakter dan ciri khas yang unik dan berbeda. Karena perbedaan dan keunikan inilah, maka ada daya tarik antara keduanya. Namun daya tarik itu harus dikontrol oleh akal budi (otak) sehingga tidak menimbulkan skandal. Para frater harus tahu menempatkan diri dalam berelasi dengan lawan jenis. Mereka harus sadar bahwa mereka sedang menjalani satu penggilan suci yaitu menjadi imam. Dan karena itu, dalam berelasi dengan orang lain, khususnya lawan jenis, mereka harus berkelakuan secara wajar dan baik. Mereka harus berhati-hati dalam berelasi. Maka panggilan dan akal budi harus menjadi “alarm” dalam bertingkahlaku. Tegas Romo.
Disamping itu, dalam pembinaan ini, Romo Okto juga mengatakan bahwa waktu luang harus dimanfaatkan sebaik mungkin. “waktu luang yang ada, harus kalian pergunakan dengan baik agar tidak berjalan tanpa sesuatupun” katanya. Waktu luang yang ada dapat diisi dengan membaca, menulis atau pun mengembangkan kreatifitas dan bakat yang dimiliki. Lebih jauh dari itu, Beliau juga menghimbau agar para frater mengolah diri sebaik mungkin khususnya dalam hal mengolah kecerdasan intelektual. Dan salah satu syarat untuk menjadi pribadi yang berpengetahuan adalah dengan membaca, menganalisa dan menulis. “Hanya dengan membaca, menganalisa dan menulis kalian dapat berkembangan dalam pengetahuan, dan dapat menjadi Frater yang unggul dalam intelek dan berkepribadian baik ”.
Menjelang akhir pembinaan ini, sekali lagi Romo Okto menegaskan kepada para frater agar luangkan waktu untuk banyak membaca dan menulis. Mengutip perkataan Albert Einstain, Beliau mengatakan bahwa orang yang unggul adalah orang yang membaca tiga halaman buku lebih dahulu dari orang lain. Karena itu butuh perjuangan, ketekunan, kerja keras dan kedisiplinan yang tinggi agar semua itu dapat berjalan baik. Sebelum menutup kegiatan pembinaan ini, Romo mengadakan permainan sederhana namun membuat semua frater termotivasi.(dick-3’)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s