“Menggergaji Matahari di Ruang Rutin”

 Senat Fakultas Filsafat Agama (FFA) menggagas sebuah kuliah umum yang berlangsung di aula Ibrani – Seminari Tinggi Santu Mikael (12/11/11). Studium generale ini dibawakan oleh Dr. Marsel Robot, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Nusa Cendana Kupang dengan tema Meramu Karya Sastra Bercita Rasa NTT.

Kuliah umum ini dihadiri oleh seluruh mahasiswa dan mahasiswi FFA, namun tak tertutup bagi para peminat sastra untuk hadir. Ada Mario Lawi, mahasiswa FISIP Undana yang baru-baru ini mengikuti Temu Sastrawan Indonesia 2011 mewakili NTT, ada Pion Ratulolly, penulis novel Atma, ada juga Fr. Anton Kapitan, Ketua Komunitas Sastra Seminari Santu Mikhael. Kegiatan ini dimoderatori oleh RD. Patris Neonnub, salah pembina Seminari Tinggi Santu Mikhael yang juga berminat dalam dunia tulis-menulis.

Mengawali kuliah umum ini, Dr. Marsel Robot menekankan eksistensi sastra yang bukan untuk dimengerti tapi untuk dinikmati. “Bila sastra terlalu teori, maka sastra hanyalah sebuah barang  rongsokan. Bila tak ada naluri dalam sastra, maka hanya artifisial. Kalau dogma ditimpakan atasnya, maka sastra seperti jenazah yang tak mau dikuburkan. Sastra adalah bukan untuk dimengerti, tapi untuk dinikmati,” kata sastrawan berdarah Manggarai yang turut menggagas terbentuknya Dunia Sunyi (Dusun) Flobamora ini.

Menyikapi persoalan bersastra di Nusa Tenggara Timur ini, dosen Ilmu Komunikasi Undana ini memaparkan sastrawan asli NTT yang berpengaruh besar dan menyumbang banyak dalam pertumbuhan sastra Indonesia. Misalnya, Umbu Landu Paranggi yang membesarkan Rendra, Umar Kayam dan beberapa sastrawan Indonesia dan juga Dami Toda yang menelaah mantra-mantra Sutardji Calzoum Bachri (SCB) yang sebenarnya adalah puisi. Namun, beliau menyayangkan kondisi sastra di NTT kini yang sangat minim dalam hal alat ucap sastra. Begitupula dalam hal pengeksplorasian lokalitas budaya NTT. “Kita jarang mengeksplorasi sistim-sistim kepercayaan dalam masyarakat, konstruksi masyarakat atau pola laku dalam masyarakat. Bukan hanya sekedar menjadikan Pohon Tuak atau batu karang untuk dijadikan latar dalam menulis,” papar beliau.

Presentasi dari sastrawan yang memulai dunia sunyinya pada 1980 ini ditutup dengan diskusi yang hangat. Di akhir kuliah umum itu, Fr. Ishak Sonlay yang juga mewakili NTT dalam Temu Sastrawan Indonesia 2011 di Ternate sebagai pembawa acara memberi kesempatan kepada Ketua Senat FFA, Fr. Herman Bau Rua untuk memberikan piagam penghargaan kepada Dr. Marsel Robot dan RD. Patris Neonnub.(ASHP/MN)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s