Formasi menuju Transformasi

Menjadi seorang calon imam merupakan sebuah panggilan. Panggilan tersebut bisa muncul  oleh karena sebuah bisikan Roh, juga bisa muncul oleh karena ada suatu hal yang menarik yang nampak dalam panggilan tersebut. Panggilan tersebutlah yang membuat kita hadir disini. Panggilan tersebutlah yang membuat kita semua yang ada di Seminari Tinggi Santu Mikael ini menjadi istimewa. Kita yang dipanggil  dianggap sadar akan panggilan ini. Oleh karena itu, setiap hari kita harus belajar untuk menjawabi panggilan tersebut. Inilah kalimat pembuka yang dipaparkan oleh Rm. Okto Naif, Pr dalam pertemuan bersama para frater tingkat IV yang terjadi di ruang rekreasi unit Ibrani, Selasa, 25 Oktober 2011.

Dengan tema pertemuan ‘Formasi Menuju Transformasi’, banyak hal yang disampaikan oleh  Romo Okto kepada frater-frater yang akan pergi menjalani praktek pastoral bulan juli 2012 mendatang. Dalam pertemuan ini, beliau menegaskan hakekat dari panggilan kita sebagai seorang calon imam dan imam. Dari aspek psikologis, beliau mengatakan bahwa  sebuah panggilan merupakan suatu cara untuk mewujudkan diri yang sesuai dengan aspirasi yang timbul dari dalam diri. Disini kerinduan, perasaan, dan pikiran sangat berperan penting dalam menjawabi panggilan tersebut. Sedangkan secara antropologis, salah satu pembina tingkat IV ini mengatakan bahwa sebuah panggilan menunjuk pada dua dimensi ganda hidup ini yakni yang Ilahi dan yang manusiawi. Kultur, keluarga, kesehatan fisik, kebugaran intelektual, dan masalah karakter; semua inilah hal-hal manusiawi yang ada disekitar kita yang sangat mempengaruhi kita dalam menjawabi panggilan ini. Kita sebagai orang-orang yang terpanggil mesti sadar akan panggilan tersebut. “Allah memanggil siapa saja yang Ia mau dan yang Ia kehendaki demi sesuatu yang Ia kehendaki pula”. Tutur Imam asal Noemuti ini.

Diakhir pertemuan ini, Romo Okto menekankan bahwa kita perlu melihat “Track Record” kita, melihat sejarah pribadi kita. Dan untuk mencapai transformasi tersebut beliau menegaskan bahwa panggilan dan kehadiran kita disini perlu dites, perlu diuji, dan perlu dinilai; sejauh mana kita menghayati nilai-nilai teologi, spiritual, dan humanum dalam menjawabi panggilan kita selama ini. Mana yang berguna dan mana yang tidak? Dalam menjawabi panggilan ini, kita perlu membebaskan diri dari pikiran yang bercabang. “Kalau jadi, tidak jadi. Kalau tidak jadi, jadi”. Semuanya itu hanya membuat kita menjadi pribadi yang“plin-plan” dalam memilih dan menjawabi panggilan ini. Menurut beliau, solusi sementara tersebut tidak akan pernah menyelesaikan persoalan. Semuanya sama sekali tidak pernah membuat kita dewasa dan matang. Yang dibutuhkan disini adalah perubahan. Sebuah perubahan yang unggul, berkualitas dan bermartabat, bukannya berubah-ubah. Inilah yang kita sebut TRANSFORMASI.(Pix/MN)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s