Ultah RD John Subani: “Hanya Tuhan yang Tahu”

“Selamat ulang tahun ke-46 untuk Romo Jhon Subani,” kata Praeses Seminari Tinggi St. Mikael, Romo Ande Kebelen, Pr mengawali sambutannya di akhir perayaan ekaristi pada hari ulang Rm. Jhon Subani, Pr; salah satu pembina STSM pada Kamis (13/10/2011) bertempat di kapela St. Mikael.

Perayaaan ekaristi dimulai seusai ibadat pagi (laudes) pukul 06.00 wita dipimpin sendiri oleh Sang Yubilaris beserta tujuh orang imam pendamping. Tanggungan koor dipercayakan pada frater-frater dari unit Hebron. Mereka bernyanyi kali ini lebih meriah daripada biasanya. Sebab, nyanyian mereka itu selain untuk memuliakan Tuhan tapi juga mengiringi perayaan ekaristi khusus bagi pembina unit mereka.

Dalam khotbahnya, Romo Jhon mengungkapkan bagaimana kehidupan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang sangat paradoksal. “Sikap orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu sangat paradoksal. Mereka membangun makam para nabi, tapi justru nenek moyang mereka sendirilah yang membunuhnya. Merekapun meletakkan beban di punggung orang, tapi mereka sendiri tidak mau memikulnya. Maka bagi para frater, jadilah pemimpin yang tidak mempersulit orang lain,” tegas wakil Dekan FFA yang mengambil lisensiat Hukum Kanonik ini.

Perayaan ekaristi berjalan lancar sampai pada sambutan-sambutan pada akhir perayaan. Romo Ande Kabelen berkesempatan pertama untuk menyampaikan sambutannya. “Semua ini hanya Tuhan yang tahu. Tak ada yang tahu bahwa 46 tahun yang lalu, seorang bayi mungil akan lahir di Noemuti. Bahkan kedua orang tua Rm. Jhon sendiri pun tidak tahu kalau suatu saat anak mereka akan menjadi imam. Tak hanya itu, anak merekapun mendapat kesempatan untuk studi ke Roma dan kini menjadi dosen di FFA. Maka sudah pasti ini sangat  membahagiakan bapak dan mama.”

Tak ada yang menyangka bahwa kata-kata itu mampu mengguncang perasaan dan kenangan Romo Jhon tersendiri dengan orang tuanya. “Saya lahir pada masa Gestapu, syukur pada Tuhan saya tidak dibunuh. Waktu itu tahun kelaparan, orang tua susah. Tapi karena jasa mereka saya bisa bertumbuh. Saya terharu ketika Praeses mengucapkan kata ‘mama’. Karena mama saya meninggal ketika saya berumur 7 tahun. Orang lain bisa tumbuh dengan kasih sayang seorang mama, tapi saya tidak,” ungkap Romo Jhon yang langsung disusul dengan isak tangis yang tertahan. Perayaan itupun ditutup dengan air mata terharu bukan cuma dari mata Yubilaris tapi juga air mata beberapa pembina.(ASHP/MN)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s