Menjadi WARGA NEGARA DAN WARGA GEREJA

 

Kegiatan rekoleksi bulanan komunitas Seminari Tinggi St. Mikhael kembali terjadi. Kegiatan yang berlangsung sejak hari sabtu (15/10) sore hingga hari minggu (16/10) pagi ini dipimpin oleh RD. Herman Punda Panda. Adapun tema yang diangkat dalam rekoleksi ini adalah tentang menjadi warga negara dan warga gereja yang baik, dengan sumber inspirasinya dalam perikop Matius 22:15-22. Perikop ini berkisah tentang perintah untuk memberikan kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah.

Kegiatan rekoleksi ini dibuka dengan renungan dan refleksi berdasarkan perikop Matius 22:15-22, yang diberikan oleh RD. Herman Punda Panda. Dengan berbagai penjelasan eksegetis, yakni berkaitan dengan latar belakang dan konteks perikop Matius 22:15-22, beliau membawa para frater dan para romo untuk semakin mendalami maksud dari perikop tersebut.

“Yesus memang berhadapan dengan pilihan dilematis. Jika dia menyetujui membayar pajak kepada kaisar, maka orang-orang Yahudi akan menuduh-Nya sebagai kaki tangan penjajah, dan segala harapan orang-orang Yahudi tentang Yesus sebagai Raja yang datang untuk membebaskan mereka dari penjajahan akan hancur. Sebaliknya, jika Yesus menolak membayar pajak Ia akan dituduh sebagai pemberontak dan penghasut masyarakat. Hal ini jelas akan mengancam keselamatan Yesus sendiri. Namun Yesus ternyata mampu memberikan jawaban cerdas dan bijaksana. Setelah meminta sekeping dinar dan menanyakan tentang gambar dan tulisan yang ada pada dinar tersebut, Yesus menjawab para murid orang Farisi dan kaum Herodian dengan pesan supaya memberikan kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah apa yang wajib diberikan kepada Allah. Dengan jawaban ini Yesus menyampaikan kebenaran Allah sekaligus mampu keluar dari perangkap kaum Farisi dan Herodian.”

Selanjutnya RD. Herman Punda Panda mengajak para frater dan romo untuk melihat berbagai kenyataan berkaitan dengan pesan dari perikop tersebut. Bahwasannya sering kali terjadi banyak calon imam dan imam yang kurang seimbang memperhatikan kedua aspek tersebut. Terkadang timbul pikiran dalam diri para calon imam dan imam bahwa urusan mereka hanyalah urusan agama, sehingga muncul sikap apatis terhadap berbagai urusan negara.

“Kita ini warga gereja sekaligus warga negara. Jadi bukan hanya para aktifis PMKRI yang berseru 100% warga gereja dan 100% warga Negara, sementara kita hanya duduk dan menonton. Hal itu seringkali terjadi. Bahkan terkadang ada yang berpikiran bahwa urusan kita hanya soal agama. Sementara soal-soal yang berkaitan dengan hidup bernegara itu urusan orang lain. Selain itu,banyak dijumpai orang beriman juga yang hanya memperhatikan urusan kesalehan pribadi tanpa punya semangat kepedulian sosial. Atau yang lain lagi begitu sibuk dengan urusan sosial sampai lupa urusan kerohanian pribadinya. Ini kenyataan yang memprihatinkan dan harus kita perbaiki.”

Pada akhir renungannya, RD. Herman Punda Panda mengajak para frater dan para romo untuk kembali menyadari peran sentral sebagai seorang pemimpin. Beliau mengatakan bahwa sebenarnya urusan agama dan negara sejalan, walau terdapat juga beberapa titik benturan. Negara dan agama sama-sama memperjuangkan dan mengusahakan kesejahteraan hidup manusia. Karena itu, sebagai seorang gembala umat, para frater dan para romo hendaknya ikut berperan secara benar dan tepat.

“Kita tidak bisa menjadi warga gereja 90% dan warga negara 10%. Dalam peran kita sebagai warga negara dan gembala umat, kita perlu punya sikap peduli terhadap kenyataan sosial yang terjadi. Sebab tugas kita adalah mengusahakan kesejahteraan umat Allah dan membawa mereka untuk semakin merasakan kebaikan dan cinta Tuhan, sebagaimana tugas negara untuk mengusakan kesejahteraan warganya.”

Kegiatan rekoleksi ini dilanjutkan dengan kegiatan sharing dalam kelompok. Pada kegiatan sharing dalam kelompok terjadi pada hari minggu (16/10) pagi, setelah perayaan Ekaristi berlangsung ini, para frater saling membagi pengalamannya seputar pengamatan dan keterlibatan dalam upaya memulihkan martabat manusia dan membangun kesejahteraan manusia. Akhrinya, kegiatan rekoleksi bulanan ini ditutup dengan adorasi Sakramen Mahakudus yang berlansung setelah kegiatan sharing, bertempat di kapela Seminari Tinggi St. Mikhael. (ISG/MN)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s