BEDAH NOVEL MEMBADAI PUKUAFU

                Pada hari Senin (09/08) berlangsung kegiatan bedah dan peluncuran novel Membadai Pukuafu karya Vinsensius Jeskial Boekan, bertempat di aula Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui. Hadir pada kesempatan itu Walikota Kupang, Bpk. Daniel Adoe, para Romo dan frater Seminari Tinggi St. Mikhael serta para undangan lainya. Novel kedua dari Vinsen Jeskial Boekan ini dibedah oleh empat orang pembedah, yaitu P. Gregor Neonbasu, SVD dari sisi kebudayaan, Ibu Pndt. Kolimon dari sisi gender, Rm. Patris Neonnub, Pr dari sisi filsafat dan Prof. Felix Sangu dari sisi sastra.

Dalam penjelasannya P. Gregor Neonbasu, SVD mengatakan bahwa dalam novel ini terlihat adanya perbedaan kebiasaan orang-orang di kota besar dan kecil. Hal tersebut nampak dalam perbandingan antara apa yang terjadi di Surabaya dan di Kupang, sebagaimana digambarkan penulis dalam novel tersebut. Selain itu P. Gregor juga memberi apresiasi yang besar karena kecermatan dan ketekunan dari penulis dalam membangun sebuah kisah cerita yang apik. Sementara itu Ibu Pndt Kolimon, pada kesempatan tersebut mengungkapkan analisisnya tentang perjuangan gender dewasa ini yang menurutnya terlalu dibesar-besarkan. Ada kesan bahwa perjuangan gender malah menjadi kebablasan. Dalam memperjuangkan haknya kaum perempuan bukan lagi hanya mencari persamaan kedudukan dan penghargaan namun malah menginginkan kekuasaan terhadap kaum lelaki. Hal ini sangat nampak dalam karakter Rahel yang sangat progender.

Rm. Patris Neonnub, Pr dalam kesempatan tersebut menggunakan kajian filsafat psikologi dari Eric Fromm tentang cinta. Menurut beliau penggambaran penulis tentang tokoh Homer dalam novel tersebut sangat kental dengan sikap narsistik. Akibatnya pembaca yang jeli akan merasa apa yang terjadi dalam cerita tersebut jauh dari kenyataan perjuangan hidup yang real. Sedangkan Prof Felix Sanga dalam kesempatan tersebut tidak banyak berbicara tentang kajian sastra atas novel tersebut. Prof. Felix mengatakan bahwa catatan kajiannya telah disiapkan dan akan diserahkan secara pribadi kepada penulis.

Walikota Kupang, Bpk. Daniel Adoe dalam sambutannya mengatakan bahwa apa yang dibuat oleh Vinsen Boekan ini adalah teladan bagi para sastrawan muda di NTT. Beliau mengapresiasi semangat dari Vinsen Boekan yang di samping kesibukannya sebagai seorang pegawai senior masih menyempatkan diri untuk berkreasi dan menghasilkan karya-karya yang luar biasa. Hal tersebut juga ditekankan oleh Rm. Ande Kabelen dalam sambutannya. Menurut beliau momentum bedah dan peluncuran novel yang dilakukan di dalam lingkungan seminari itu hendaknya menjadi motivasi bagi para frater untuk mengembangkan kemampuan diri, bukan hanya dalam bidang menulis, namun juga bidang-bidang lainnya.

Pada kesempatan peluncuran novel Membadai Pukuafu karya Vinsensius Jeskial Boekan oleh walikota Kupang, Bpk. Daniel Adoe, juga diluncurkan buku antologi cerpen Wanita Sepotong Kepala, karya perdana para frater komunitas sastra Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui.

Dalam sesi diskusi para peserta lebih banyak mengajukan pertanyaan kepada Vinsensius Jeskial Boekan. Bahkan tidak sedikit peserta yang mengungkapkan ketidakpuasannya atas novel kedua karya Vinsen Boekan yang memiliki banyak kesalahan teknis dan kental dengan ideologi pribadi yang dipaksakan dalam novel tersebut.

Rangkaian acara bedah dan peluncuran Novel Membadai Pukuafu itu ditutup dengan acara makan siang bersama bertempat di ruang makan fraters Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui.

One thought on “BEDAH NOVEL MEMBADAI PUKUAFU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s